Selamat datang di website Harian Umum Haksuara - silahkan membaca berita - semoga bermanfaat - terima kasih - salam Dr. Ocihida (Pimpinan HakSuara)

LOGIN WARTAWAN

Belum memiliki akun? Daftar

PESAN SINGKAT

Statistik

mod_vvisit_counterHari ini31
mod_vvisit_counterKemarin32
mod_vvisit_counterMinggu ini90
mod_vvisit_counterBulan ini224
mod_vvisit_counterTotal38761

Pengunjung

Archive

Home arrow Opini
Opini
Siapa yang Tak Mati... PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh HS_all   
Friday, 26 February 2010

 Makassar.Hak Suara.

Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya.
Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar:
“Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada.”
“Itu saja syaratnya?” tanya wanita itu dengan keheranan.
“Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati.”
Dengan “semangat 45″, wanita itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat entusias, “Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!”
Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: “Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?” “Oh, boleh saja,” jawab tuan rumah. “Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?” “Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu.” Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya.

Terakhir Diperbaharui ( Saturday, 06 March 2010 )
Baca lebih lanjut...
 
© 2010 www.haksuara.com
SIUP NO. 617/ SK/ MENPEN/ SIUP/ 98/ TANGGAL 14 OKTOBER 1998