Pendidikan dan Teknologi

Gubsu :bulan Ramadhan Momentum Untuk Mempererat persatuan dan kesatuan

terorisme yang muncul di berbagai tempat belakangan ini berpotensi untuk memecah belah bangsa. Untuk itu, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Dr Ir HT Erry Nuradi MSi berharap bulan Ramadhan bisa menjadi momentum untuk mempererat persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat

Hal itu disampaikan Gubsu Erry Nuradi pada acara Buka Puasa Bersama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Bupati/Walikota, Tokoh Masyarakat dan Organisasi Masyarakat Keagamaan, 2 Ramadhan 1439 H/2018 M, di Aula Raja Inal Siregar Kantor Gubernur,

“Akhir-akhir ini, kita melihat bahwa banyak kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan kita dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada. Untuk itu, kita harus hati-hati dan bijak menyikapi kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini,” kata Gubsu Erry Nuradi .

Menurut Erry, bulan Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk merawat dan mempererat persatuan dan kesatuan. Di bulan Ramadhan, banyak kegiatan-kegiatan yang bersifat kolektif seperti berbuka puasa bersama, sahur bersama, dan shalat tarawih berjamaah. Kegiatan-kegiatan kolektif ini adalah salah satu bentuk silaturahmi yang bisa dimanfaatkan, khususnya pemerintah, untuk menjalin kedekatan dengan seluruh lapisan masyarakat.

“Oleh karenanya, kita patut bersyukur bahwa Indonesia memiliki banyak agenda-agenda silaturahmi dengan berbagai nama, salah satunya adalah kegiatan safari Ramadhan yang selalu dilaksanakan pada setiap bulan puasa. Pemerintah provinsi dan seluruh Forkopimda berganti-ganti mengisi safari Ramadhan dengan kegiatan berbuka puasa bersama, ini menunjukkan bahwa di Sumut, sampai dengan hari ini, silaturahmi dengan seluruh stakeholder dan masyarakat terjaga dengan baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Erry menyampaikan, bulan Ramadhan adalah bulan untuk belajar berempati dan menumbuhkan solidaritas dengan sesama. Puasa juga mengajarkan umat Islam untuk memiliki keshalehan sosial, mengajarkan untuk empati pada penderitaan kaum dhuafa.

“Dengan menahan lapar, kita belajar mengerti kesulitan orang-orang yang sering kelaparan karena kurang mampu. Untuk itu, marilah kita tingkatkan rasa saling peduli sesama dan saling berbagi,” ajaknya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan Prof Dr Muhammad Hatta dalam tausiyahnya menyampaikan, puasa adalah salah satu solusi permasalahan degradasi sikap dan karakter bangsa Indonesia.

“Di tengah-tengah keprihatinan kita terhadap degradasi beberapa sikap individu dan kolektif bangsa, puasa ini sebetulnya mampu membangun karakter dan mental yang positif. Orang berpuasa belajar menjadi orang yang jujur, menahan diri, nafsu, amarah, ego, dan mengajarkan sifat empati. Berpuasa itu artinya mengendalikan diri kita dari yang belum baik menuju yang terbaik. Mudah-mudahan manfaat-manfaat berpuasa ini akan kita peroleh di bulan Ramadhan ini,” ujarnya.

Previous ArticleNext Article