oleh

KPH Toili Diminta Tindak Dalang Pembalakan Liar .

-Tak Berkategori-0 views

 

Morut, Hak suara. Maraknya pembalakan liar di wilayah Topo, Kecamatan Bungku Utara akhir-akhir ini menuai sorotan warga.

Pasalnya dibalik pembalakan liar tersebut, diduga ada keterlibtan oknum petugas kehutanan yang kesehariannya aktif bertugas di kantor KPH Toili-Baturube.

Sungguh aneh tapi nyata, yang seharusnya menjaga areal hutan sekaligus memfasilitasi tata kelola hutan di wilayah justru menjadi pelopor pelanggar ketentuan peraturan dan tatakelola hasil hutan.

Tim investigasi dari awak media saat bertandang ke lokasi diperoleh keterangan warga setempat yang enggan disebutkan namanya menuturkan bahwa ada keterlibatan oknum petugas kehutanan di KPH Toili-Baturube.

Sebut, oknum kehutanan berinisial “F” dan “L” yang masih aktif mengabdi di dinas kehutanan propinsi diduga kuat sebagai dalang pembalakan liar di hutan yang ada di Desa Opo, Bungku Utara.

Sesuai laporan masyarakat yang tidak mau di publikasikan namanya kepada tim investigasi 08/12 bahwa pengolahan kayu di Desa Opo berjalan lancar.

Pembalakan yang diduga tanpa memiliki ijin pengolahan dan pengangkutan bahan baku atau dengan kata lain tanpa di lengkapi dengan dokumen berjalan lancar tanpa hambatan.

Mengetahui informasi tersebut, kemudian tim investigasi menelusurinya ke Desa Opo Kecamatan Bungku Utara dan benar mendapati kayu di T.O kurang lebih dua kubik kayu ukuran bervariasi dengan jenis kayu KOMEA.

Merasa tidak puas dengan temuan ini, tim investigasi wartawan media ini menelusuri sampai ke pohon tegakan yang ada di hutan desa opo (08/12) dan mendapati beberapa warga yang sedang melakukan pengangkutan kayu jenis KOMEA menggunakan sapi.

Areal tenmbangan kayu tersebut diduga kuat bukan lagi lahan perkebunan warga melainkan hutan bebas yang belum ada surat kepemilikan tanah.

Menurut pengakuan sumber yang tidak mau disebutkan namanya bahwa tumpukan kayu tersebut adalah milik “OKNUM” kehutanan inisial “L” yang masih aktif bertugas di dinas kehutanan propinsi KPH Toili-Baturube, sumber pun membeberkan secara terbuka bahwa dirinya bekerja mengola kayu dan difasilitasi oleh oknum kehutanan inisial “L” dan mengaku bahwa sudah dibayar lunas oleh Mr L.

“Semua kayu hasil kerja kami sudah dibayar lunas oleh oknum L, yang masih di dalam hutan juga sudah dibayar lunas”, tandas sumber tersebut kepada media ini.

Oknum L tersebut memiliki pekerja sebanyak delapan orang operator sengsor dan delapan unit sengsor serta diketahui oleh sumber bahwa sudah dua kali pemuatan, disetiap pemuatan sebanyak dua puluh dua kubik.

Untuk mencari kejelasan atas informasi tersebut, wartawan media ini lalu menghubungi Mr. L via telepon genggam namun tidak disahuti.

Kepala RESORT KPH Toili-Batu-rube , Bapak JAHARUDIN saat ditemui wartawan media ini di kantor resot KPH toili- batu rube membenarkan atas laporan masyarakat tentang pembalakan liar di desa opo.

Kepala Resort Jaharudin menuturkan, “Memang benar pak sudah ada laporan masyarakat ke kami, tapi gimana kami disini sangat kekurangan personil pak, dan saya sebagai kepala resort sudah berulang kali meminta kepada dinas kehutanan yang ada di provinsi tetapi tidak ada respon”a

Masih dari Jaharudin, “mungkin juga pak, karena faktor biaya operasional, yang kurang atau porsonilnya yang kurang makanya laporan kami ke dinas kehutanan di provinsi tidak direspon pak, kami tidak bisa berbuat apa apa yang jelasnya kami tetap siaga”.

Kepala KPH Toili-Baturube saat dikonfirmasi via Hand Phone oleh awak media ini mengaku bahwa pihaknya sudah menindak lanjuti kasus ini, namun mengaku pula bahwa masih ada pelaku yang lolos dari kejaran petugas KPH Toili-Baturube hal ini dikarenakan KPH Toili-Baturube kekuarangan personil.

Atas kasus tersebut diminta petugas terkait di tingkat atas agar dapat menindak lanjuti kasus pengolahan kayu secara liar yang didalangi oleh oknum L dan menindak TEGAS kepada pelakunya sehingga tidak memberikan preseden buruk terhadap institusi kehutanan Propinsi Sulteng khususnya wilayah kerja KPH Toili-Baturube.

Sampai berita ini diterbitkan, belum diketahui sejauh mana kelanjutan dari kasus temuan pelanggaran pengolahan kayu berdasarkan barang bukti (Babuk) yang diamankan di kantor Resort Toili-Baturube. (TK/Tim)