Pemilu dan Pilkada

Penelitian LSI Tiga Parpol Islam Tidak Lolos

Jakarta,Haksuara.com,- Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil rangkuman dari lima survei terakhir partai politik dari Agustus sampai Desember 2018. Hasilnya, ada tiga partai Islam yang tidak lolos ambang batas parlemen alias Parliamentary Threshold (PT) sebesar 4 persen.
Peneliti LSI Ardian Sopa mengatakan, dalam hasil temuan lembaganya tiga partai Islam tidal lolos ke Senayan. Yakni, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Agustus eletabilitasnya sebesar 3,2 persen, September 3,0 persen, Oktober 2,9 persen, November 3,4 persen dan Desember 3,0 persen.
Kemudian Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Agustus 3,9 persen, September 4,1 persen, Oktober 2,6 persen, November 2,9 persen dan Desember 3,3 persen. Selanjutnya adalah PAN di Agustus 1,4 persen, September 1,5 persen, Oktober 1,9 persen, November 1,6 persen, dan Desember 1,8 persen.
“Kalau untuk PKS, PPP dan PAN memang masih harus berjuang untuk lolos, tapi untuk melihat dari sejarah mereka, mereka punya pengalaman di pemilu sebelumnya, sehingga data yang ada ini langsung bergerak,” ujar Ardian dalam survei LSI di Jakarta, Selasa (8/1).
Tiga partai ini berbanding terbalik dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Karena partai yang dikomandoi oleh Muhaimin Iskandari (Cak Imin) berhasil lolos parliamentary threshold. Temuan LSI, PKB di bulan Agustus elektabilitasnya sebesar 6,7 persen, September 5,4 persen, Oktober 6,3 persen, November 6,2, dan Desember 6,9 persen.
Menurut ‎Ardian, salah satu alasan jebloknya elektabilitas tiga partai Islam itu karena ‎tidak punya figur yang kuat dan bisa menarik para pemilih.
“Faktanya masyarakat saat ini masih melihat ke figur, ketika ada figur yang bagus mereka akan berbondong-bondong, ini seperti PDIP dan Gerindra mereka akan ke sana,” katanya.
Tiga ketua umum partai politik Sohibul Iman di PKS, Romahurmuziy di PPP dan Zulkifli Hasan di PAN tingkat kepopulerannya masih di bawah 50 persen. Berbeda dengan Megawati Soekarnoputri (PDIP), Susilo Bambang Yudhoyono (Demokrat), Surya Paloh (Nasdem), Prabowo Subianto (Gerindra) dan Hary Tanoesubdibjo (Perindo).
“Soal kekuatan Amien Rais di PAN juga seiring perjalanan waktu, pamornya sudah mulai turun. Berbeda saat di PAN awal-awal terbentuk,” ungkapnya.
Selain faktor figur, pemilih juga memilih parpol karena adanya program yang disukai publik. “Ketika figur tidak ada, dan program tidak ada ya masyarakat kehilangan alasan untuk memilih partai ini,” katanya.

Diketahui, survei LSI ini dilakukan menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah responden sebesar 1.200 orang. Survei ini dilakukan dengan wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner. Margin of error di survei ini lebih kyrang sebesar 2,9 persen.

Previous ArticleNext Article