Politik dan Pembangunan

PERTARUHAN IDIOLOGIS dan BIOLOGIS ETNIS KETURUNAN VERSUS ETNIS IMPORT.

Haksuara.jakarta PERTARUHAN IDIOLOGIS dan BIOLOGIS ETNIS KETURUNAN VERSUS ETNIS IMPORT.

Oleh : Ozzy SS. Ketum KWRI/ Sekjen Majelis Pers.

Sebagai umat Pers yang menjunjung tinggi nilai nilai kebenaran. Tentu merespon situasi ditengah kondisi Negara yang saat ini dianggap sudah terjadi distabilitas dan berpotensi disintegrasi bangsa.

Walau acapkali sering terjebak oleh situasi yang salah, dimana ketika melaksanakan tugas tugas jurnalistiknya, Peran Pers justru memungkinkan menabrak dan terbentur oleh etika, sendi dan Norma yang terbungkus dalam Ego sentris dan Etno sentris.

Hal itu tentu menggempur Dogma-Dogma sesat dan menyesatkan yang selama ini tidur pulas oleh tradisi usang dengan pembenaran yang keliru.

Terjangkitnya wabah virus hifokritisme oleh hegemoni sebagian warga negara indonesia yang berujung Paradoks glaobal.
itulah potret wajah indonesian kekinian…

Kalau mau jujur tentu Kita harus tanamkan kejujuran dalam hati dan fikiran kita. Bahwa warga negara indonesia (WNI) pasca Kemerdekaan telah diberi ruang dan kesempatan mempunyai hak-hak yang sama. didalam menjalani kehidupannya sesuai yang diatur dalam konstitusi negara.

Secara historis. Bangsa indonesia adalah bangsa yang berasal dan terdiri dari beberapa unsur Suku.Agma.Ras dan Etnis.walau sudah beradaptasi menjadi satu kesatuan yaitu Bangsa Indonesia.

Inilah sebuah bangsa indonesia ( Sesuai konstitusi _read_ ). ketika diproklamirkan oleh “founding Fathers” para pendiri bangsa ini pada tanggal.17 agustus tahun 1945. Yang berkumandang seantero dibelahan dunia.

Dan termaktub dalam UUD 1945 dan Panca-Sila. yang mengikat kita sebagai negara kesatuan republik indonesia (NKRI) dalam Rantai “Bhineka Tunghal Ika”.yaitu berbeda beda tapi tetap Satu.

Namun hal tersebut faktanya berbeda berbanding lurus dengan apa yang dimaksud “Bangsa Indonesia” memang sangat naif atau picik bila kita pungkiri. Fikiran -Fikiran liar itu terus meracuni bahkan menggerogoti alam bawah sadar kita.

Mungkin kata “NKRI” sering kita dengar dan jumpai dari buku buku, tulisan tulisan para tokoh, Elite politik, legislatif,eksekutif hingga organisasi masa.yang telah menjual simbul dan lambang negara sebagai platform dan jargonnya.

Layaknya tukang obat kelilng atau pedagang kaki lima dipinghir jalan yang mengobral obral jati diri bangsa dengan gimik licik penuh intrik.

ketika berpidato penuh dengah harapan semangat, berapi api yang seolah olah agar mendapat predikat atau Label seorang Nasionalis Patriot sejati..?

Padahal berhianat pada ibu pertiwi, karna telah menjual kedaulatan bangsanya sendiri dengan harga murah oleh makelar dengan modus kerjasama.lobisana- lobisini, hutangsana-hutang-sini, Jualsana- jualsini. Yang penting asal mengungtung sekelompok elit untuk mendapatkan Fee untuk meperkaya diri.

Yang lebih membuat kita semakin miris dan prihatin justru para elit, tokoh bahkan Pejabat berkuasa sendiri yang membuat pintu kesenjangan itu terbuka lebar. Yang selama ini pintu tertutup Rapat rapat dan terkunci oleh budaya toleransi, saling menghormati, gotong royong dsb. sebagai bangsa yang beradab dan berbudi.

Tanpa disadari pula para elit justru memberi kesenjangan.seringnya melontarkan dan menggunakan diksi dan narasi narasi sensitif yang mengklim dirinya Nasionalis,Patriotis, dan Pacasilais namun hanya sebatas perjuangan kata-kata kosong tanpa makna.

sebut saja “Saya Pancasila… saya NKRI.adapula yang mendiskreditkan bahkan menghakimi bangsa Arab keturunan hingga berujung “RASIS” justru hal ini mempertajam ruang perbedaan perbedaan itu.

Lebih diperparah lagi kebijakan kebijakan yang diambil pemerintah terhadap pro aseng pengusaha nakal alias konglomerasi Hitam yang telah merampok dan menjarah uang Rakyat.

Serta memberi Ruang seluas luasnya kepada negara RRC alias Negara Tiongkok .yang diduga sebagai bentuk kolonialisasi gaya baru yang potensily mengancam warga Etnis keturunan. ditengah kemarahan massa sebagai bentuk overkonfensasi yang slalu menjadi korban dan bulan bulanan kemarahan warga yang mengeneralisir dan memiliki nalar sempit saat negara mengalami chaos atau kegentingan hingga mengorbankan warga etnis lain yang tidak berdosa.

Mungkin sebagian warga Etnis Keturunan itu sendiri sangat menyadari atas kekonyolan kebijakan Pemerintah itu yang akan berdampak buruk pada dirinya, oleh sikap apriori dan bentuk perlawanan namun apadaya tangan tak sampai.

Maka sudah sepetutnya para Etnis keturunan untuk bersatu dalam satu wadah PERSATUAN ETNIS INDONESIA.atau FORUM KESATUAN ETNIS KETURUNAN Dst.dalam bingkai NKRI dan MERAH PUTIH. yang bertujuan Untuk mereduksi Efek efek negatif selama ini.

Membuktikan pada publik bahwa kaum Etnis keturunan adalah berbeda dengan Etnis Import alias K2 yang saat ini banyak digunjingkan kebanyakan orang.dan membuat langkah langakah cerdas, strategis dan terukur dengan memberi arah pemikiran dan pemahaman kepada publik bahwa ETNIS KETURUNAN adalah bagian dari bangsa indonesia yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme dalan kibaran sang saka merah putih dan NKRI harga mati…..🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.