Umum

“STOP DISKRIMINASI DAN STIGMA NEGATIF TERHADAP ODHA”

OLEH: Faisal, S.Kep.,Ns
Mahasiswa Magister Keperawatan Angk VIII Universitas HasanuddinMakassar
Dosen di STIK FAMIKA Makassar
Perawat di Puskesmas Segeri Kabupaten Pangkep
Nomor HP : 081342036381

Sejak awal epidemi, lebih dari 70 juta orang terinfeksi virus HIV dan sekitar 35 juta orang meninggal karena HIV. Secara global 36,7 juta orang hidup dengan HIV pada akhir 2016. Diperkirakan 0,8% orang dewasa berusia 15-49 tahun di seluruh dunia hidup dengan HIV, walaupun beban epidemi terus bervariasi antara negara dan wilayah. hampir 1 dari setiap 25 orang dewasa (4,2%) hidup dengan HIV dan mencakup hampir dua pertiga orang yang hidup
dengan HIV di seluruh dunia (WHO, 2017) Jumlah kasus penularan HIV di Indonesia cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2010 sampai dengan 2016. Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai desember 2016 sebanyak 232.323 orang dan jumlah AIDS tertinggi berdasarkan pekerjaan adalah pada ibu rumah tangga (12.219) orang (Ditjen P2PL Kemenkes RI, 2017) .

ODHA mengacu pada Orang dengan HIV dan AIDS. ODHA digunakan sebagai pengganti istilah untuk seseorang yang dinyatakan positif terinveksi HIV. ODHA mulai digunakan untuk menggantikan istilah pengidap, penderita, dan istilah lain yang dinilai kurang manusiawi. Penggunaan kata ODHA dianjurkan oleh Prof. Dr Antom M. Moeliono, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Dekdibdud, kepada aktivis YPI Al. Husein Habsy dan Alm Suzana Murni. Sekarang, istilah ODHA sudah digunakan secara luas untuk menggantikan kata pengidap. Perlu diketahui bahwa virus HIV berkembang dengan sangat cepat dan penyebarannya terkadang memunculkan hasil yang tidak dapat diduga-duga sebelumnya. Biasanya HIV dan AIDS menimbulkan masalah yang sulit dan bagi pribadi penderita, misalnya seputar kesehatan, hubungan dengan orang lain, keuangan, kematian atau perasaan mengenai seksualitas. Prasangka dan diskriminasi (perlakuan tidak adil) dari orang lain serta masalah sosial dan ekonomi yang lebih luas sehingga menyebabkan banyak persoalan untuk Odha. Masyarakat sering menganggap bahwa HIV/ AIDS adalah penyakit kotor hal ini dipengaruhi oleh pemikiran yang pendek dan kurang pengetahuan tentang penyakit HIV/AIDS dan menganggap ODHA tidak berhak hidup.

Stigma negatif selalu dijadikan masyarakat sebagai senjata utama untuk mengucilkan para ODHA, hal itulah yang membuat jurang diskriminasi semakin dalam. Hukuman sosial berupa diskriminasi dan stigma oleh masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap ODHA terdapat dalam berbagai cara, antara lain tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi, dan tidak ada perlindungan kerahasiaan tentang penyakitnya.

Sangat Sedih dan memprihatinkan ketika ODHA diasingkan dari keluarga, teman, atau sahabat bahkan di lingkungan tempat tinggalnya dimana dilahirkan dan dibesarkan. ODHA seakan menjadi momok yang menakutkan, seakan membawa sebuah penyakit kutukan dan sebuah musibah, bagi ODHA membutuhkan dukungan moril dari keluarga, sahabat dan orang-orang yang terdekatnya dalam menghadapi masa-masa sulit saat terkena penyakit tersebut.

ODHA membutuhkan lingkungan yang penuh empati dan kepedulian terhadap penderitaan yang dialaminya. Masyarakat maupun keluarga sekitarnya seharusnya mampu memotivasinya untuk bangkit dari segala keterpurukan, bukan untuk dihakimi dengan vonis dan stigma buruk baginya. Hukuman sosial itu bagi ODHA, sangat berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Salah satu pesan hari AIDS sedunia pada 1 desember 2013, adalah melawan stigma. Stigma terhadap ODHA akan membuat mereka merasa tidak nyaman dan akibatnya mereka akan menjauh dari layanan kesehatan dan jika mereka menjauh dari layanan dan menjadi komunitas tertutup maka akan sulit menerapkan program pencegahan penularan HIV kepada masyarakat. Meski sudah banyak kampanye dan sosialisasi mengenai penyakit HIV dan AIDS, tetapi pada kenyataannya masyarakat masih belum sepenuhnya memahami dan bersikap terbuka pada para penderita. Kondisi ini terlihat dari adanya stigma negatif yang berujung pada diskriminasi. diskriminasi terhadap penderita HIV digambarkan selalu mengikuti stigma dan merupakan perlakuan yang tidak adil terhadap individu karena status HIV mereka, baik itu status sebenarnya maupun hanya persepsi saja. Dengan kata lain, masyarakat sebenarnya juga tidak mendapatkan pemahaman dan informasi yang tepat terkait penyakit satu ini. Mengingat HIV dan AIDS sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, bahkan takut terhadap penyakit ini.

Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan kerjasama beberapa pihak terkait, baik dari kalangan medis maupun dari kalangan pemerhati pasien HIV/ AIDS. Memperbaharui sikap dan menjauhi opini negatif sehingga bagi ODHA hal itu dapat menjadi obat mujarab tersendiri bagi mereka. Para ODHA layak untuk hidup normal dan merasakan hidup sebagaimana mestinya. Maka dari itu, STOP diskriminasi dan stigma negative terhadap ODHA, karena mereka adalah manusia yang sama seperti kita. Hal yang terpenting adalah dengan tidak menganggap ODHA sebagai orang asing, atau bahkan orang terbuang.

Semakin banyak informasi diberikan kepada ODHA, dan mendapatkan dukungan dari teman, sahabat, khususnya dari keluarga dan perawatan medis dan pelayanan keperawatan yang baik dari tahap awal penyakitnya akan lebih berhasil menangani infeksinya. Dan pemberian Terapi antiretroviral (ART) yang sekarang semakin terjangkau dapat memperlambat kecepatan penggandaan HIV dan perawatan jangka panjang yang komprehensif kepada semua orang yang hidup dengan HIV, dan menantang stigmatisasi dan diskriminasi terkait HIV. Berbagilah pada orang lain mengenai hal-hal yang sudah kita ketahui dan ajaklah mereka untuk membicarakan tentang stigma dan bagaimana mengubahnya. Berikan pengertian bahwa stigma itu melukai orang lain.

Previous ArticleNext Article